Ahmad Ghozali Fadli
Oleh: Ahmad Ghozali Fadli
Ketika Al-Qur’an berbicara tentang langit, bumi, air, gunung, tumbuhan, hewan, pergantian malam dan siang, sesungguhnya manusia sedang diajak melakukan sesuatu yang sangat mendasar: melihat, memperhatikan, berpikir, dan mengambil pelajaran.
Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia hanya membaca ayat yang tertulis pada lembaran mushaf. Manusia juga diperintahkan membaca “ayat” yang terbentang di seluruh alam.
Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 190)
Ayat berikutnya bahkan menggunakan kata يَتَفَكَّرُونَ — mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi.
Di sinilah terdapat salah satu spirit besar keilmuan Al-Qur’an: iman menggerakkan manusia untuk berpikir.
Semesta yang Teramat Besar
Manusia dahulu memandang langit dengan mata telanjang. Kini manusia menggunakan teleskop yang mampu menangkap cahaya dari jarak miliaran tahun cahaya.
Ilmu pengetahuan modern memperkirakan usia alam semesta sekitar 13,8 miliar tahun. NASA juga menyebut Galaksi Bima Sakti sendiri memiliki lebih dari 100 miliar bintang. Bahkan penelitian berbasis pengamatan microlensing memperkirakan terdapat setidaknya sekitar 100 miliar planet di galaksi kita saja.
Bayangkan. Matahari yang kita lihat setiap pagi hanyalah satu bintang di antara lebih dari seratus miliar bintang di Bima Sakti. Dan Bima Sakti bukanlah seluruh alam semesta.
Di hadapan kenyataan sebesar itu, ayat Al-Qur’an memperoleh kedalaman maknanya:
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا
“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 191)
Sains dapat mengukur jarak bintang, menghitung kecepatan galaksi, mempelajari spektrum cahaya dan memperkirakan usia kosmos. Tetapi Al-Qur’an membawa manusia kepada pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa semua ini diciptakan, dan apa maknanya bagi kehidupan manusia?
Di situlah tafakkur dimulai.
Bumi: Rumah Kecil di Tengah Kosmos
Usia bumi diperkirakan sekitar 4,54 miliar tahun, berdasarkan antara lain penanggalan radiometrik terhadap material purba bumi dan meteorit.
Empat setengah miliar tahun. Namun di planet kecil inilah berlangsung sesuatu yang hingga sekarang terus menjadi objek besar penelitian manusia: kehidupan.
Al-Qur’an mengarahkan perhatian kita kepada salah satu unsur terpenting kehidupan:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.”
(QS. Al-Anbiya’ [21]: 30)
Data empiris menunjukkan bahwa sekitar 71 persen permukaan bumi tertutup lautan.
Lebih penting lagi, ilmu biologi modern menunjukkan bahwa seluruh kehidupan yang kita kenal di bumi membutuhkan air. Air menjadi medium penting bagi berbagai reaksi kimia dalam sel, membantu pelarutan molekul, transportasi zat, serta berbagai proses yang memungkinkan organisme tetap hidup. Karena itulah pencarian kehidupan di planet lain pun sangat sering dimulai dengan satu pertanyaan: apakah di sana terdapat air, khususnya air dalam bentuk cair?
Apakah QS. Al-Anbiya’ ayat 30 harus disebut sebagai buku teks biologi? Tidak.
Al-Qur’an tidak menjelaskan struktur molekul H₂O, ikatan hidrogen, membran sel atau metabolisme. Semua itu menjadi wilayah penelitian manusia.
Tetapi Al-Qur’an mengarahkan pandangan manusia kepada air sebagai sesuatu yang sangat fundamental bagi kehidupan. Wahyu memberi arah. Sains meneliti mekanismenya.
Perintah untuk Mengamati
Menariknya, Al-Qur’an berkali-kali menggunakan bahasa yang sangat dekat dengan tradisi observasi.
Allah berfirman:
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
“Tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan; langit, bagaimana ditinggikan; gunung-gunung, bagaimana ditegakkan; dan bumi, bagaimana dihamparkan?”
(QS. Al-Ghasyiyah [88]: 17–20)
Kata yang digunakan adalah يَنْظُرُونَ — memperhatikan, melihat dengan sungguh-sungguh. Bukan sekadar melihat. Tetapi mengamati.
Unta dapat menjadi objek zoologi dan fisiologi. Langit menjadi wilayah astronomi dan kosmologi. Gunung menjadi kajian geologi. Bumi menjadi ruang geografi, geofisika, ekologi dan berbagai cabang ilmu lainnya.
Karena itu, semangat Al-Qur’an sebenarnya sangat dekat dengan lahirnya budaya ilmiah: amati, pikirkan, pelajari, lalu ambil pelajaran.
Teleskop, mikroskop, satelit, laboratorium dan komputer pada hakikatnya memperpanjang kemampuan manusia untuk melakukan apa yang sejak awal diperintahkan Al-Qur’an: melihat lebih jauh dan memahami lebih dalam.
Ayat di Ufuk dan dalam Diri Manusia
Al-Qur’an bahkan menggunakan ungkapan yang sangat indah:
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri....”
(QS. Fussilat [41]: 53)
Ada dua wilayah besar yang disebut: al-āfāq dan anfusihim. Ufuk yang luas dan diri manusia sendiri.
Yang pertama membawa manusia kepada astronomi, fisika, geologi, oseanografi, meteorologi dan ilmu lingkungan.
Yang kedua membawa manusia memasuki biologi, genetika, fisiologi, neurosains, psikologi dan berbagai ilmu tentang kehidupan.
Semakin jauh manusia melihat ke luar, semakin luas semesta yang ditemukannya.
Semakin dalam manusia melihat ke dalam dirinya, semakin rumit kehidupan yang ditemukannya.
Sains justru menunjukkan betapa banyak hal yang belum manusia ketahui.
Jangan Memaksakan Al-Qur’an Menjadi Buku Sains
Di sinilah kehati-hatian diperlukan.
Ada godaan untuk setiap penemuan ilmiah segera dicarikan ayat, kemudian diklaim bahwa teori tersebut telah dijelaskan Al-Qur’an sejak 1.400 tahun lalu.
Pendekatan seperti ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Sebab sains berkembang melalui observasi, eksperimen, pengukuran, pengujian dan koreksi. Teori ilmiah dapat diperbaiki ketika muncul bukti baru. Sedangkan Al-Qur’an adalah wahyu yang memberi hidayah, nilai, orientasi dan cara pandang.
Karena itu, kebesaran Al-Qur’an tidak harus dibuktikan dengan memaksakan setiap teori ilmiah masuk ke dalam suatu ayat.
Justru yang sangat jelas adalah bahwa Al-Qur’an membangun mentalitas ilmiah sekaligus spiritual: mengamati tanpa kehilangan iman, berpikir tanpa kehilangan kerendahan hati, dan memperoleh ilmu tanpa kehilangan tanggung jawab.
Tanggung Jawab Ilmiah
Membaca alam tidak boleh berhenti pada kekaguman.
Semakin manusia mengetahui cara kerja bumi, seharusnya semakin besar pula tanggung jawabnya menjaga bumi.
Saat ini ilmu pengetahuan memperkirakan terdapat sekitar 8 juta spesies hewan dan tumbuhan di bumi. Kajian global IPBES memperkirakan sekitar 1 juta spesies menghadapi ancaman kepunahan, banyak di antaranya dalam beberapa dekade mendatang apabila tekanan terhadap alam terus berlangsung.
Al-Qur’an sudah memberikan peringatan moral:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia....”
(QS. Ar-Rum [30]: 41)
Di sini sains dan agama bertemu pada persoalan yang sangat konkret.
Sains dapat menunjukkan apa yang rusak, seberapa cepat kerusakannya, dan apa penyebab materialnya.
Al-Qur’an mengingatkan siapa yang harus bertanggung jawab.
Ilmu memberi kemampuan kepada manusia.
Wahyu memberi arah agar kemampuan itu tidak berubah menjadi keserakahan.
Membaca Ayat, Membaca Semesta
Mungkin inilah yang perlu dibangun kembali dalam pendidikan Islam.
Anak-anak tidak cukup diajak membaca Al-Qur’an tanpa mengenal alam yang berkali-kali disebut oleh Al-Qur’an. Sebaliknya, mereka tidak cukup mempelajari sains tanpa memahami nilai, tujuan dan tanggung jawab dari ilmu yang dikuasainya.
Kita membutuhkan generasi yang ketika membaca ayat tentang langit, terdorong mempelajari astronomi. Ketika membaca ayat tentang tumbuhan, tertarik mempelajari botani. Ketika membaca ayat tentang hewan, terdorong mendalami zoologi. Ketika membaca ayat tentang manusia, tertarik kepada biologi dan kesehatan. Ketika membaca ayat tentang bumi, ingin memahami geologi dan lingkungan.
Dan ketika seluruh pengetahuan itu bertambah, yang tumbuh bukan kesombongan, tetapi kesadaran:
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا
“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia.”
Karena pada akhirnya, Al-Qur’an mengajarkan manusia membaca ayat, sedangkan sains membantu manusia membaca semesta.
Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan.
Dan ketika keduanya berjalan bersama, membaca semesta juga melahirkan kekaguman, kerendahan hati, tanggung jawab, dan akhirnya—penghambaan kepada Allah.
Artikel ini bermanfaat? Bagikan kepada yang lain.


